Ekspor Mobil Indonesia Turun 2,7 Persen: 371.260 Unit Sepanjang Januari-September 2026
Ekspor mobil utuh (CBU) Indonesia membukukan 371.260 unit sepanjang Januari sampai September 2026. Angka itu turun 2,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 381.644 unit. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) ini menandai perbalikan arah dari pasar domestik yang justru tumbuh.
Penurunan paling tajam terjadi pada September 2026. Pengiriman hanya 33.888 unit, menyusut 26,7 persen dari Agustus yang mencapai 43.825 unit. Ini titik terendah sepanjang tahun.
Ekspor CBU (Completely Built Up) menghitung mobil yang dikirim dalam kondisi utuh, siap jual. Sisanya berupa ekspor terurai (CKD) dan suku cadang yang tidak masuk hitungan ini. Karena itu, angka CBU adalah termometer tercepat untuk melihat permintaan negara tujuan terhadap mobil rakitan Indonesia.
Rekam bulanan
Distribusi ekspor CBU per bulan sepanjang 2026 bergerak naik turun:
- Januari: 40.003 unit. Februari: 46.585 unit. Maret: 36.867 unit.
- April: 36.207 unit. Mei: 47.560 unit. Juni: 44.476 unit.
- Juli: 41.849 unit. Agustus: 43.825 unit. September: 33.888 unit.
Mei menjadi bulan terbaik dengan 47.560 unit. September terpaut 13.672 unit dari angka tersebut. Pola ini berbeda dari penjualan domestik yang mencatat rekor pada Agustus.
Enam dari sembilan bulan berada di atas 40.000 unit, sehingga penurunan tahunan 2,7 persen itu terbentuk dari dua bulan lemah, bukan kolaps bertahap. September sendiri hanya menyumbang 9,1 persen dari total kumulatif.
Toyota tetap di puncak
Toyota menempati posisi teratas sebagai eksportir mobil dari Indonesia dengan 130.582 unit sepanjang Januari-September 2026, naik tipis 0,4 persen dari 130.045 unit setahun sebelumnya. Daihatsu dan Mitsubishi Motors menyusul di posisi berikutnya.
Angka itu menyumbang sekitar 35 persen dari seluruh ekspor CBU Indonesia. Toyota satu-satunya eksportir besar yang tumbuh di tengah pasar yang menyusut, dan posisinya menguat ketika pabrikan lain kehilangan volume.
Secara bulanan, ekspor Toyota tercatat 17.692 unit pada September, turun sedikit dari 17.759 unit pada Agustus. Mitsubishi mengapalkan 10.446 unit pada September, setelah 12.380 unit pada bulan sebelumnya.
Penyebab: ekonomi global dan konflik Timur Tengah
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menyebut ketidakpastian ekonomi global sebagai penyebab utama pelemahan pengiriman ke luar negeri. Situasi diperberat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.
Kawasan itu bukan pasar kecil bagi kendaraan produksi Indonesia. Uni Emirat Arab, Yaman, Qatar, dan Arab Saudi termasuk negara tujuan ekspor. Selama konflik berlanjut, permintaan dari empat pasar tersebut tertahan.
Ekonomi global juga belum pulih sepenuhnya, dan kondisi itu menekan daya beli di negara tujuan ekspor lain. Kukuh merangkumnya singkat: "Ekonomi global juga belum dalam kondisi yang baik. Situasinya memang belum baik-baik saja."
September yang jatuh
Angka September layak dibaca terpisah. Penyusutan 26,7 persen dalam satu bulan bukan gerak musiman biasa. Pada bulan yang sama, ekspor Toyota turun tipis dari 17.759 ke 17.692 unit, sedangkan Mitsubishi jatuh dari 12.380 ke 10.446 unit. Artinya, penurunan terkonsentrasi pada sebagian merek dan negara tujuan, bukan penutupan pabrik serentak.
Agustus yang tinggi juga memperlebar selisihnya. Distribusi bulan sebelumnya menyentuh 43.825 unit, angka tertinggi kedua tahun ini setelah Mei. Penurunan tajam dalam satu bulan seperti ini membuat target tahunan pabrikan harus dihitung ulang.
Kontras dengan pasar domestik
Sementara ekspor melandai, penjualan di dalam negeri melaju. Wholesales Januari-September 2026 mencapai 679.020 unit, tumbuh 21 persen secara tahunan dari 561.405 unit. Penjualan ritel menyentuh 676.223 unit, naik 15,4 persen dari 585.926 unit.
Gaikindo berharap tren ini menopang target penjualan 850.000 unit sampai akhir tahun. Artinya, pasar domestik harus menyerap sekitar 171.000 unit lagi dalam tiga bulan terakhir, atau rata-rata 57.000 unit per bulan. Angka itu jauh di bawah capaian September.
Peta persaingan mereknya sendiri sudah berubah, dengan BYD menembus lima besar sebagaimana dibahas dalam analisis pergeseran penjualan Januari-September. Kinerja bulanannya terekam dalam laporan penjualan mobil September 2026.
Yang menentukan kuartal terakhir
Dua arah berlawanan ini menarik untuk diikuti sampai akhir tahun. Di satu sisi, permintaan domestik yang kuat mendorong produksi. Di sisi lain, ekspor adalah penyeimbang neraca pabrikan ketika pasar lokal jenuh.
Kapasitas produksi baru siap menambah volume. Pabrik BYD di Subang, misalnya, dibangun dengan kapasitas 150.000 unit per tahun, sebagaimana diulas dalam berita resminya produksi BYD di Subang. Menarik ditunggu apakah sebagian output itu dialihkan ke ekspor ketika pasar Timur Tengah pulih.
Untuk industri, pameran Gaikindo Auto Week 2026 yang digelar serentak di 10 kota menjadi penopang volume domestik pada kuartal akhir. Momentum inilah yang diandalkan Gaikindo untuk menutup pelemahan ekspor.
Bagi konsumen, angka ekspor tidak memengaruhi harga mobil secara langsung. Yang terasa adalah ketersediaan unit. Pabrikan cenderung mengutamakan pasar yang lebih menguntungkan, dan ketika ekspor tertahan, stok di diler lokal biasanya melimpah dan negosiasi harga lebih longgar. Momentum itu layak dimanfaatkan sebelum akhir tahun.