Mobil Bensin Kehilangan Dominasi: Pangsa Pasar ICE Indonesia Turun ke 75%, BEV Tembus 15,6%
Mobil Bensin Kehilangan Dominasi: Pangsa Pasar ICE Indonesia Turun ke 75%, BEV Tembus 15,6%
Mobil berbahan bakar bensin dan diesel (ICE) mulai kehilangan cengkeramannya di pasar otomotif Indonesia. Data Gaikindo menunjukkan kontribusi ICE terhadap total penjualan mobil nasional merosot dari 99,6% pada 2021 menjadi 75% per Maret 2026. Di sisi lain, mobil listrik berbasis baterai (BEV) melesat dari hanya 0,1% menjadi 15,6% dalam kurun waktu yang sama.
Pergeseran ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Secara global, pangsa pasar mobil bensin untuk pertama kalinya sejak 1920-an berada di bawah 50% pada semester I 2026. Data Mobility Global yang diolah Nikkei Asia menunjukkan mobil bensin menyumbang sekitar 49% dari total penjualan mobil baru dunia sepanjang Januari-Juni 2026.
Angka-angka Kunci di Indonesia
Berikut perubahan struktur pasar otomotif Indonesia berdasarkan data Gaikindo:
- ICE (bensin/diesel): 99,6% (2021) → 78,2% (2025) → 75% (Q1 2026)
- BEV (listrik murni): 0,1% (2021) → 12,9% (2025) → 15,6% (Q1 2026)
- Hybrid: tumbuh 47% YoY menjadi 43.366 unit (semester I 2026)
- PHEV: kontribusi kecil tapi stabil di kisaran 2% pasar
Penjualan BEV hingga Maret 2026 mencapai 33.146 unit, naik 96% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara penjualan mobil ICE justru turun dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit di periode yang sama. Jumlah model BEV yang tersedia di Indonesia juga melonjak dari hanya 11 model pada 2021 menjadi 74 model di 2026.
Faktor-faktor yang Mendorong Pergeseran
Beberapa faktor mempercepat transisi dari mobil bensin ke listrik di Indonesia:
Kenaikan harga BBM non-subsidi. Harga Pertamax dan produk BBM non-subsidi lainnya terus naik sepanjang 2025-2026. Biaya operasional mobil listrik yang jauh lebih rendah per kilometer menjadi pertimbangan utama konsumen. Rata-rata biaya mengisi daya BEV hanya sepertiga dari biaya mengisi bensin untuk jarak tempuh yang sama.
Harga BEV yang makin terjangkau. Pada 2021, mobil listrik termurah di Indonesia dijual di atas Rp600 juta. Kini, beberapa model BEV sudah tersedia di kisaran Rp300 jutaan, mendekati harga mobil konvensional di segmen yang sama. BYD Atto 1 misalnya, dijual mulai Rp359 juta.
Insentif pemerintah. Pemerintah memberikan insentif PPN dan kemudahan perizinan untuk kendaraan listrik. Rencana insentif baru yang dijanjikan terbit pada akhir 2026 diharapkan semakin mendorong adopsi.
Infrastruktur pengisian yang berkembang. Jumlah stasiun pengisian kendaraan listrik (SPKLU) terus bertambah, terutama di kota-kota besar dan sepanjang tol Trans-Jawa. Kecemasan soal range (jarak tempuh) perlahan berkurang.
Dampak pada Segmen LCGC
Segmen yang paling terdampak oleh pergeseran ini adalah Low Cost Green Car (LCGC). Penjualan LCGC turun 25% pada Januari-April 2026, dari 50.416 unit menjadi 37.823 unit. Mobil-mobil seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, dan Honda Brio Satya menghadapi tekanan langsung dari BEV murah yang menawarkan fitur lebih lengkap.
Pengamat otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, memproyeksikan penurunan LCGC akan berlanjut. Menurutnya, harga BEV yang semakin kompetitif dan biaya operasional yang lebih rendah membuat mobil entry-level bermesin konvensional kehilangan daya tarik. Transisi ini perlu dikelola dengan strategi multi-pathway, termasuk memperkuat segmen hybrid sebagai jembatan. Baca juga: Panduan Modifikasi Mobil Listrik 2026.
Posisi Indonesia di Peta Global
Dalam konteks global, Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan adopsi BEV tercepat di Asia Tenggara. China tetap menjadi pasar EV terbesar dunia dengan kontribusi sekitar separuh penjualan global, meski penjualannya turun 3% setelah insentif pajak dikurangi. Eropa mencatat pertumbuhan 32% dengan penjualan EV yang untuk pertama kalinya melampaui mobil bensin dalam perhitungan semester.
Toyota sebagai pemegang pangsa pasar terbesar di Indonesia mengakui pergeseran ini. Bansar Maduma, Marketing Director PT Toyota-Astra Motor, menyebut penjualan hybrid Toyota telah tumbuh lebih dari 80% YoY. Meski demikian, kendaraan ICE masih menyumbang sekitar 79% penjualan Toyota secara keseluruhan. Lihat juga: Toyota Veloz Hybrid EV 2026.
Apa Artinya bagi Konsumen?
Pergeseran ini memberikan keuntungan nyata bagi konsumen. Pilihan kendaraan semakin beragam, harga semakin kompetitif, dan teknologi semakin canggih. Konsumen yang mempertimbangkan mobil listrik kini punya lebih dari 70 model untuk dipilih, dari hatchback kompak hingga SUV premium.
Namun, keputusan tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Konsumen dengan pola perjalanan harian pendek di kota besar paling diuntungkan oleh BEV. Sementara mereka yang sering melakukan perjalanan jarak jauh ke daerah terpencil mungkin masih lebih nyaman dengan hybrid atau ICE untuk saat ini.