Pabrik Baterai EV CATL-IBC di Karawang Resmi Beroperasi: Kapasitas 6,9 GWh, Investasi Rp21 Triliun
Pabrik Baterai EV CATL-IBC di Karawang Resmi Beroperasi: Kapasitas 6,9 GWh, Investasi Rp21 Triliun
PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) memulai operasi bertahap di pabrik baterai EV Karawang, Jawa Barat, pada Juli 2026. Ini menjadi pabrik baterai EV kedua yang beroperasi di Indonesia setelah Hyundai-LG yang beroperasi sejak Juli 2024.
Detail Operasi
CATIB merupakan joint venture antara Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL), anak usaha CATL, bersama PT Antam Tbk dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Pabrik seluas 43 hektare di kawasan Artha Industrial Hills, Karawang, ini menghasilkan sel baterai, modul, dan paket baterai lengkap.
Kapasitas fase pertama mencapai 6,9 GWh per tahun. Fase kedua akan menambah 8,1 GWh sehingga total kapasitas menjadi 15 GWh, cukup untuk memasok sekitar 250.000 kendaraan listrik. Total investasi untuk keseluruhan proyek mencapai US$1,2 miliar atau sekitar Rp21,19 triliun.
Rantai Pasok Terintegrasi
Pabrik Karawang merupakan bagian dari Indonesia Battery Integration Project (IBIP) senilai US$5,9-6 miliar. Proyek ini menghubungkan penambangan dan pengolahan nikel di Halmahera Timur, Maluku Utara, dengan produksi sel baterai dan perakitan paket di Jawa Barat.
Ahmad Erani Yustika, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, mengonfirmasi operasi telah dimulai secara bertahap. Konstruksi selesai dan fokus saat ini adalah ramp-up produksi sambil menunggu jadwal peresmian dari Presiden Prabowo Subianto.
Bukan Sekadar Perakitan
CATIB bukan pabrik perakitan paket yang mengimpor sel dari luar. Fasilitas ini memproduksi sel baterai lithium-ion secara mandiri, yang kemudian diolah menjadi modul dan paket untuk kendaraan listrik roda dua, roda empat, dan sistem penyimpanan energi (BESS).
Aditya Farhan Arif, Direktur IBC, menyebut bahwa mengolah nikel hingga menjadi baterai bisa melipatgandakan nilai hingga 100 kali lipat dibanding mengekspor bijih mentah, asalkan rantai pasok terintegrasi dan permintaan pasar tersedia.
Dampak Ekonomi dan Tenaga Kerja
Proyek ini diperkirakan menyerap 8.000 pekerja langsung dan 35.000 pekerja tidak langsung. Sebanyak 600 karyawan menjalani pelatihan di China sebelum operasi dimulai. IBC juga berencana mengekspor baterai ke Eropa.
Konteks Lebih Luas
Sejak 2018, kawasan industri Weda Bay di Halmahera telah menarik investasi US$20 miliar dengan rencana tambahan US$7 miliar. Pada 8 Oktober 2026, Presiden Prabowo meresmikan operasional empat fasilitas dan groundbreaking tujuh proyek baru senilai US$10,2 miliar di kawasan tersebut, termasuk pabrik separator dan elektrolit baterai yang mengisi celah kritis dalam rantai pasok.
Bagi konsumen, dampaknya jelas: ketersediaan baterai produksi dalam negeri akan menekan harga kendaraan listrik dan memperkuat jaringan servis baterai di Indonesia. Ekosistem EV Indonesia bergerak dari rencana ke realitas.